Pantai berpasir terhampar luas sampai puluhan kilometer, diseling oleh tebing-tebing cadas, berpadu dengan sungai-sungai jernih berwarna hijau atau biru, “diwarnai” oleh desa asri nan hijau dan hutan yang masih lebat, menciptakan suasana keindahan luar biasa di pesisir selatan Ciamis Jawa Barat.

Terapit oleh Samudra Hindia dan daerah perbukitan, pesisir Ciamis Selatan dapat dicapai dalam waktu 5 jam dengan kendaraan bermotor dari Bandung melalui jalan yang mulus. Sebuah sungai besar yaitu Citanduy bermuara di dekatnya, beserta beberapa sungai lain berukuran sedang.

Tanah subur, laut penuh ikan, teluk terlindung dan air tawar melimpah membuat kawasan pesisir Ciamis Selatan telah dihuni oleh manusia sejak dari zaman Kerajaan Galuh pada abad ke-7 sampai abad ke-16. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan perkebunan kelapa di sini, diikuti dengan pengembangan infrastruktur berupa pelabuhan dan jalur kereta api.

Pembangunan kereta api dilakukan pada tahun 1912, menembus perbukitan melalui tiga terowongan dan beberapa jembatan. Salah satu terowongannya, bernama Wilhelmina, merupakan terowongan kereta api terpanjang di Indonesia yaitu sekitar 1,2 km.

Sebuah “taman buru” juga dikembangkan di sini pada tahun 1920-an untuk kegiatan wisata bagi para pengelola atau bagi karyawan perkebunan berkebangsaan Belanda atau Eropa dari daerah sekitarnya.

Setelah kemerdekaan kegiatan wisata terus berkembang di pesisir Ciamis Selatan sampai kini dan menghadirkan satu pantai yang begitu terkenal yaitu Pangandaran.

Tldak terbantahkan lagi bahwa pusat pariwisata di pesisir Ciamis Selatan berada di Pangandaran dan telah tersedia berbagai fasilitas cukup lengkap di sini. Terdapat penginapan mulai dari hotel berbintang, sampai losmen atau rumah yang dapat disewa dari penduduk.

Makanan lezat disajikan oleh berbagai rumah makan, seperti hidangan laut nan segar, ikan air tawar bakar atau jenis kuliner lainnya. Toko-toko cenderamata juga tersebar di sini bersama dengan berbagai tempat rental peralatan untuk aktivitas wisata seperti sepeda tandem, ATV dan sepeda motor.

Suatu lahan menjorok ke laut bernama Pananjung – dahulunya berasal dari suatu pulau yang kemudian terhubung dengan daratan utama melalui tanah genting – membuat Pangandaran menjadi tempat ideal untuk melihat matahari terbit dan matahari tenggelam.

Pantai sebelah barat memiliki hamparan pasir lebar dan panjang, menjadi tempat mengasyikkan untuk berbagai kegiatan, termasuk berenang, terutama di pagi dan sore hari.

Di daerah Pananjung terdapat kawasan konservasi berupa taman wisata alam dan cagar alam dengan hutan yang masih rimbun, dihuni oleh rusa, monyet, lutung, biawak, kalong dan burung rangkong.

Tempat yang sering dikunjungi wisatawan dl daerah ini adalah pantai pasir putih nan menawan dan beberapa gua alam. Pengunjung juga dapat menjelajahi hutan untuk melihat bunga Rafflesia dan air terjun. Sayangnya terumbu karang yang ada telah rusak, walaupun kini dilakukan upaya untuk memulihkannya melalui kegiatan transplantasi karang.

Waktu terbaik mengunjungi Pangandaran adalah musim kemarau, saat laut tenang, ketika ikan, cumi, udang dan kepiting melimpah. Pada musim-musim liburan, Pangandaran dapat penuh sesak oleh pengunjung.

Namun, sebenarnya masin cukup banyak tersedia ruang di sepanjang pesisir Ciamis Selatan untuk kegiatan wisata. Pantai-pantai tidak kalah menarik lainnya dapat dijumpai di Krapyak dengan pasir putih dan pemandangan ke arah Pulau Nusa Kambangan, Pantai Batu Hiu untuk melihat pemandangan menakjubkan dari atas karang, atau Pantai Batu Karas dengan teluk yang tenang dan aman untuk berenang.

Pantai terakhir ini juga terkenal sebagai tempat selancar dan kini mulai banyak berkembang penginapan dan rumah makan. Pengunjung juga dapat berperahu di sungai Cijulang yang berwarna hijau, melewati ngarai terkenal dengan nama green canyon. Selain itu, pengunjung dapat berenang di kolam-kolam alami nan jernih pada aliran sungaisungai berasal dari gunung atau dalam gua.

Bagi mereka yang menyukai petualangan dapat mengikuti kegiatan jelajah pedesaan atau menelusun sisa jalur kereta api, termasuk terowongannya, dengan berjalan kaki atau memakai sepeda gunung.

Desa-desa di sini sangat hijau dan asri dengan penataan rumahnya yang rapi serta bersih, menghadirkan suasana tenang dan menyenangkan. Selain itu terdapat berbagai industri rumah tangga seperti pembuatan gula kelapa, tahu, tempe, kerupuk, wayang golek atau wayang kulit yang menarik untuk dilihat.

Kini para wisatawan terutama dari mancanegara mulai menyukai berbagai kegiatan tersebut untuk menikmati lebih banyak keindahan pesisir Ciamis Selatan.
(ahm)
Source:
travel.Okezone.com