Suatu hari aku ketemu seorang bapak tua di sebuah bis menuju arah pulang. Dia mulai cerita pengalamannya dulu ketika dia masih muda dan bekerja pada sebuah perusahaan besar di Bandung. Dia bercerita tentang seorang Supervisor di mana dia bekerja dulu. Dia bilang, atasannya itu sangatlah bijak dan santun terhadap anak buahnya. Walaupun dia, si atasan, itu punya kuasa terhadap anak buahnya, dia tidak pernah semena-mena terhadap mereka. Dan yang lebih hebat lagi, beliau sangat aspiratif. Dia mau mendengar usulan dan kritikan dari anak buahnya, walau kadang cara dan isi kritikan tidak selamanya baik atau dengan tata cara yang semestinya. Lalu aku teringat dengan semua atasan-atasan ku selama ini. Sepertinya, aku pernah dapat yang seperti ini…atau belum ya..?

Bapak tua itu melanjutkan, Atasan bapak itu senantiasa menjaga komunikasi dengan anak buahnya. Dia selalu menyempatkan untuk sekedar menanyakan kabar bawahannya, atau sekedar becanda. Tapi ketika ada masalah, beliau tidak pernah kehilangan kesabarannya. Beliau mau memasang badan demi anak buahnya yang diperlakukan tidak adil oleh peJustify Fullrusahaan. Malah tidak jarang, dalam memutuskan suatu kebijakan, beliau selalu memikirkan baik buruknya untuk bawahannya. Beliau tidak segan untuk berkata jujur bila ada masalah yang dihadapi oleh perusahaan sehingga berimbas pada karyawan-karyawan perusahaan tersebut. Beliau juga berani mengakui kesalahan bila memang beliau berbuat salah.

Pada suatu ketika, be,iau diminta merekomendasikan beberapa karyawan untuk dipromosikan. Maka beliau pun meminta pendapat anak buahnya dengan sungguh-sungguh. Tanpa topeng manis atau sekedar basa basi saja. Ketika beliau meminta pendapat, beliau tidak hanya mendengar, tetapi lebih lanjut lagi mempertimbangkan usulan tersebut baik-baik. Sehingga beliau dapat mebuat keputusan yang benar-benar terbaik, bukan terbaik versi dia saja. Lalu aku coba bandingkan dengan pengalamanku selama ini, sepertinya aku belum ketemu yang seperti ini. Biasanya, sebagian atasanku hanya meminta pendapat anak buah sebagai formalitas biasa-tidak lebih sebagai lipstik dan kosmetik luar saja karena toh, ujung-ujungnya pendapat dia pribadi yang dipakai. Ibarat temanku bilang, dalam main kartu, si bos sudah pegang semua kartu As. Jadi jika ada yang berani usul yang tidak sepadan dengan dia, tinggal kartu As yang perlu ditunjuk, semua tentu kalah. edih juga bila aku teringat hal macam itu.
Akhirnya beliau memilih tiga orang yang memang dianggap terbaik, dan ini disetujui oleh rekan-rekan si bawahan yang ditunjuk. Luar biasa memang beliau ini.

Dilain kesempatan, ada suatu ketika dimana ada anak buahnya berbuat kesalahan yang lumayan fatal sehingga hal tersebut mempengaruhi karyawan yang lain. Beliau langsung turun tangan dan mengambil tindakan yang tegas terhadap kesalahan tersebut, sehingga stabilitas emosi karyawan yang lain pun reda.

Aku jadi berpikir, kapan ya aku dapat bos seperti beliau ini? Pasti suasana kerja bisa lebih kondusif jika situasinya seperti itu. Kapan ya? Atau jika aku nanti jadi pemimpin, mampukah aku berbuat demikian? Semoga Tuhan mau mendengar doaku ini. Dan karena aku belum jadi pemimpin, aku harap pemimpin-pemimpin yang lain bisa lebih arif dan bijaksana lagi dibanding beliau yang aku ceritakan ini. Amin…