Takbir berkumandang bersahut-sahutan di sepanjang pagi ini. Orang berduyun-duyun pergi ke tanah lapang atau masjid-masjid besar untuk melaksanakan shalat Ied berjamaah. Beberapa puluh menit kemudian, mereka pun berhamburan keluar, saling bersalaman dan bermaafan ketika mereka berpapasan dengan mereka. Ada kesamaan di wajah mereka. Mereka begitu ceria dan bahagia. Mereka menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita. Tapi, setelah itu apa?

         Apa sih sebenarnya hari kemenangan itu? Cukupkah hanya dengan bergembira menyambut Iedul Fitri? Atau dengan mengenakan pakaian baru dan hidangan-hidangan yang lezat di meja makan kita? Mempersilahkan tamu-tamu yang berkunjung untuk menikmati sajian yang telah kita siapkan semata-mata untuk hari yangspesial ini? Tampaknya tak banyak orang yang begitu peduli apakah kita bisa benar-benar mendapatkan kemulian di hari kemenangan ini. Hampir semuanya menjadi kabur. Apakah inti hari kemenangan kita hari ini? Tidak ada yang tahu secara persis. Tetapi jika kita mau sedikit saja melihat kebelakang, tentang apa yang telah kita lakukan selama 29-30 hari kebelakang, ada sesuatu yang seharusnya bisa kita pelajari. Di awal-awal bulan puasa, kita telah menyambut puasa dengan begitu meriah. Saking meriahnya sehingga kita tidak sadar telah mengeluarkan banyak enerji dan uang yang seharusnya tidak perlu. Kita mendadak menjadi manusia pemboros, hanya karena ingin memuaskan diri kita ketika berbuka. Apakah itu tujuan kita berpuasa? Sepertinya bukan. Bukankah kita dijarkan berpuasa agar kita bisa merasakan apa yang saudara kita rasakan kala mereka tak mampu. Apa yang telah kita lakukan malah sebaliknya. Kita malah berusaha berfoya-foya dengan apa yang kita miliki. Kita seharusnya menahan nafsu kita, tidak hanya nafsu makan dan minum serta nafsu sexual saja selain nafsu menahan amarah tentunya, tetapi kita tidak mampu menahan nafsu untuk memuaskan diri kita dengan apa yang kita lewatkan disiang hari. Jadi apalah guna kita berpuasa jika kita masih saja menempatkan diri kita di atas orang-orang yang seharusnya kita ambil pelajaran daripadanya. Seharusnya kita malu. Malu karena kita tidak mencapai apa yang menjadi target Al Quran isyaratkan kepada kita ketika kita diwajibkan untuk berpuasa.

         Namun yang sudah terjadi, sudahlah. Kita masih punya masa depan di depan kita. Kita masih sempat untuk memperbaiki diri kita. Mudah-mudahan kita masih diberi umur yang panjang untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan tahun ini, yang seharusnya kita pelajari dari ibadah kita tahun ini. Mari kita menyambut Iedul Fitri ini dengan visi yang lebih baik lagi. Instropeksi apa yang telah kita lakukan. Mari kita lakukan apa yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan doa-doa dan harapan kita, Amieeeennn…

Blogged with the Flock Browser