Pada suatu acara penyuluhan yang menyinggung masalah “diabetisi dan
puasa Ramadhan” seorang bapak sekitar 50 tahun, tiba-tiba berdiri dan berkata, “Sudahlah Dok, puasa adalah urusan saya dengan Allah gak usah diatur apalagi dilarang!”
Seorang peserta lain protes, “Tidak usah pakai aturan lah. Kan ada ayat yang mengatakan bahwa umat yang beriman wajib puasa.”
“Ah, tidak begitu!” protes seorang lagi.
“Katanya, orang yang sakit boleh tidak puasa. Saya, kan, sakit diabetes. Jadi,tidak usah puasa, toh?”
Sang penyuluh yang masih sangat muda hanya bisa berkata, “Tidak ada yang
melarang. Saya hanya ingin menerangkan bagaimana puasa yang aman.”
Demikian Prof. Dr. dr. Sri Hartini KS Kariadi, SpPD-KEMD membuka bab 10 dalam buku Diabetes? Siapa Takut!!

Dengan gaya bahasa santai Prof. Sri menjawab pertanyaan ‘Apakah Diabetesi (diabetics) harus puasa?’ sebagai berikut:
Pertanyaan tadi mungkin menyangkut ayat ini, “Hai orang¬-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan juga atas orang¬orang yang sebelummu. Semoga kamu menjadi orang yang takwa”. (QS Al–Baqarah [2]: 183).

Bagi yang sakit atau tidak kuat menjalankan ibadah ini, ada kemudahan yang ditentukan pada ayat 184, surat yang sama, “Puasa itu lamanya beberapa hari yang telah ditentukan, tetapi siapa yang sakit diantaramu atau dalam perjalanan, boleh tidak berpuasa, tetapi puasakanlah bilangan hari yang tidak dipuasakan itu di hari yang lain”.

Nah, untuk semua itu, yang perlu ditegaskan adalah bahwa dalam keadaan terkendali, baik, dan sedang tidak menderita penyakit lain, diabetisi termasuk orang ang cukup sehat. Dari penelitian-penelitia n terhadap Diabetesi (diabetics) yang berpuasa sebulan penuh di beberapa kota bsar di Indonesia, didapatkan bahwa mereka yang diabetesnya terkendali dengan baik, tidak mengalami kesukaran tau gangguan selama puasa itu. Bahkan pada sebagian diabetisi, pda akhir puasa ada penurunan kadar gula dan kadar kolesterol; dan ada beberapa diabetisi yang gemuk, berat badannya turun.

Diabetisi (diabetics) seperti apakah yang aman berpuasa? Diabetisi, khususnya diabetisi Tipe¬2, adalah kelompok diabetisi yang aman berpuasa. Dengan catatan, selama gula darahnya terkendali baik (<180 mg/dl) dan tidak sedang menderita penyakit atau komplikasi berat lain.

Mengapa harus yang sudah terkendali? Diabetisi yang terkendali baik adalah mereka yang gula darahnya tidak melebihi 180 mg/dl per hari. Jika gula darah penderita melebihi 180 mg/dl (miligram per100 ml darah)—artinya, melebihi nilai ambang ginjal untuk gula sehingga gula akan keluar bersama urine. Adanya gula di dalam urine, akan banyak air yang ditarik keluar bersama urine tersebut. Hal ini menyebabkan diabetisi menjadi lebih sering dan lebih banyak buang air kecil. Akibatnya, tubuh akan “menjadi kering” (dehidrasi) dan memacu rasa haus agar orang banyak minum dan memperbaiki dehidrasi setiap saat. Nah, dalam keadaan orang tidak boleh minum, dehidrasi tidak dapat diatasi; dan itu berbahaya.

Untuk kemudahan menata diet setiap hari, biasanya Diabetesi (diabetics) harus memerhatikan: jumlah dan jenis makanan, serta jadwal. Yang terutama berubah selama bulan Ramadhan adalah jadwal. Jumlah kalori dan jenis makan sama dengan hari¬hari biasa, hanya jadwalnya yang berbeda. Akan lebih baik hasilnya apabila tetap menggunakan karbohidrat kompleks sebagai sumber karbohidrat utama, baik saat sahur maupun saat berbuka.

Jika Jadwal Makan Hari Biasa
Pukul 07.30–08.00 : makan pagi = porsi makan pagi (PMP)
Pukul 10.00 : makan selingan = snack (S)
Pukul 12.30–13.00 : makan siang = porsi makan siang (PMS)
Pukul 15.00–15.30 : snack (S)

Jadwal Pada Bulan Ramadhan bagi para Diabetesi (diabetics) (diabetics) sebaiknya:
Waktu makan hanya diperkenankan kurang lebih pada pukul 18.00 – 04.00. Jadwal makan Diabetesi (diabetics) diatur :
Sekitar pukul 18.00: buka puasa (Porsi Makan Siang + Snack)
Pukul 21.00 – 22.00: makan malam (PMM + Snack)
Antara pukul 03.00-imsak: sahur (Porsi Makan Pagi PMP + Snack)

Makan malam pada bulan puasa sebaiknya tidak dalam bentuk nasi dengan lauk pauk, tetapi dalam bentuk lain, misalnya makaroni atau pasta yang volumenya kecil tapi kalorinya mencukupi. Jika tetap ingin makan nasi, makanlah nasi merah.

Berbuka puasa dengan kurma boleh-boleh saja, tetapi cukup 1 – 2 biji.

http://www.republikbuku.com/page_produk_detil.php?kd_prod=978-602-8579-07-0